Lombok Timur – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mulai memasang jembatan darurat di Desa Perigi yang sebelumnya terputus akibat banjir pada 19 November lalu. Jembatan sementara ini diharapkan mampu memulihkan akses transportasi dan aktivitas warga yang sempat terisolasi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, Muhammad Juaini Taofik, mengatakan pemasangan jembatan tersebut merupakan hasil koordinasi lintas pemerintah dan TNI.

Ia menyebut, penugasan dilakukan langsung oleh Bupati Lombok Timur dengan dukungan BPBD Provinsi NTB serta tim TNI yang dikomandoi Pangdam IX/Udayana.

“Alhamdulillah, berkat koordinasi yang baik antara Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Danrem, hingga Pangdam IX/Udayana, kita mendapatkan bantuan jembatan Bailey dengan kapasitas 25 sampai 30 ton. Hari ini sudah mulai dipasang di lokasi,” ujar Juaini di sela peninjauan, Minggu (4/1/2026).

Menurut Juaini, jembatan tersebut sangat strategis karena menghubungkan satu dusun yang sempat terisolasi. Terdapat sekitar 140 kepala keluarga yang selama ini terdampak putusnya akses, termasuk terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi warga.

“Walaupun ini jembatan sementara, secara fungsional kapasitasnya setara dengan jembatan permanen. Kekuatan maksimalnya 25 ton, sementara kendaraan pengangkut hasil galian C di wilayah ini rata-rata hanya 10 sampai 15 ton,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Ahmadi, menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan aset Pangdam IX/Udayana yang dipinjamkan untuk kebutuhan darurat dengan masa pemanfaatan sekitar 1 hingga 1,5 tahun.

“Ini jembatan darurat dengan masa penggunaan sekitar 18 bulan. Setelah itu akan dikembalikan ke Pangdam IX/Udayana. Dalam rentang waktu tersebut, kami berharap pemerintah kabupaten bisa membangun jembatan permanen,” kata Ahmadi.

Ia menambahkan, pemasangan jembatan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 10 hari ke depan dan sudah bisa dilalui kendaraan berat. Jembatan tersebut memiliki bentang hingga 24 meter dengan konstruksi dobel balok yang dinilai lebih kuat dari spesifikasi standar.

“Paling tidak 10 hari ke depan sudah bisa dilalui, termasuk oleh dump truk bermuatan pasir hingga 25 ton. Ini cukup aman, tentu dengan tetap mengedepankan kehati-hatian,” ujarnya.

Ahmadi juga mengungkapkan bahwa kebutuhan jembatan darurat saat ini cukup tinggi, tidak hanya di NTB tetapi juga di NTT dan beberapa wilayah lain di Indonesia yang terdampak bencana.

Di sisi lain, Kepala Wilayah Waibeta, Ahmad Nasir menjelaskan jembatan tersebut ambruk total dan sempat memutus akses utama masyarakat. Menurutnya, pemerintah daerah langsung bergerak tak lama setelah kejadian.

“Jembatan ini ambruk pada 19 November. Sekitar tiga hari setelah kejadian, Bapak Bupati Lombok Timur langsung turun meninjau lokasi,” ujar Ahmad Mesi.

Ia mengungkapkan, meski proses pembangunan jembatan darurat berlangsung hampir dua bulan, secara regulasi penanganannya tergolong sangat cepat. Hal ini juga diakui oleh Komandan Kompi (Danki) yang terlibat langsung dalam pengerjaan.

“Menurut keterangan Pak Danki, ini termasuk sangat cepat. Bahkan beliau sampai heran kenapa pembuatannya bisa secepat ini. Biasanya di tempat lain penanganannya lebih lambat,” katanya.

Selain pembangunan jembatan darurat, masyarakat terdampak juga menerima bantuan logistik dari pemerintah daerah. Bantuan tersebut disalurkan lebih dari satu kali, berupa bahan pangan dan kebutuhan dasar lainnya.

“Atas nama masyarakat Dusun Waibeta kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Bupati Lombok Timur atas atensinya. Sudah dua kali bantuan bahan pangan seperti beras dan kebutuhan lainnya disalurkan kepada warga,” ucap Ahmad.

Ia berharap, setelah jembatan darurat ini difungsikan, ke depan pemerintah daerah dapat membangun jembatan permanen agar akses warga lebih aman dan berkelanjutan.

“Harapan kami, setelah jembatan darurat ini, ke depannya bisa diganti dengan jembatan permanen. Semoga Bapak Bupati selalu sehat dan kebaikannya dibalas oleh Allah SWT,” tuturnya.

Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat vital bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi akses utama mobilitas warga, jembatan ini juga menunjang layanan kesehatan, pendidikan, serta aktivitas pertanian.

“Kalau jembatan ini sudah selesai, tentu masyarakat sangat senang. Jembatan ini sangat dibutuhkan karena menyangkut akses kesehatan, pendidikan, dan pertanian warga,” pungkasnya.

Dengan pemasangan jembatan darurat ini, pemerintah berharap aktivitas warga Desa Perigi dapat kembali normal dalam waktu dekat, sembari menyiapkan rencana pembangunan jembatan permanen melalui sinkronisasi program pemerintah pusat dan daerah di tengah keterbatasan fiskal.

By Setyono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *